Pasca malam 30 September 1965, kekacauan politik dan sosial terjadi di Indonesia hampir secara merata. Kekacauan politik ditandai dengan kudeta ‘halus’ untuk menurunkan Sukarno dari tampuk kekuasaan untuk diduduki oleh Suharto. Dan kekacauan sosial di lapisan masyarakat terlihat dari maraknya isu komunisme yang seakan mengizinkan satu sama lain untuk saling melaporkan, menangkap, bahkan membunuh. Dengan dibukanya akses terhada dokumen-dokumen rahasia negara, para peneliti mulai berani menyatakan adanya keterlibatan negara lain dalam periode kekacauan tersebut, terutama Amerika Serikat.

Is it Tomorrow? Komik propaganda anti-Komunis di Amerika, 1947

Sejarah Amerika Serikat sesungguhnya juga mencatat adanya penggunaan isu komunisme untuk menciptakan suasana tidak mengenakkan di antara masyarakat, yang dikenal dengan McCarthyism. Istilah ini berkaitan erat dengan Second Red Scare (ketakutan akan ‘merah’ atau komunis) pada periode pemerintahan senator Wisconsin, Joseph McCarthy, yang berlangsung pada 1947 sampai 1956. Pada saat itu, represi politik dan kampanye penyebaran ketakutan yang bersumber dari pemerintah pusat dilakukan untuk membantas gerakan dan organisasi Komunis yang dikaitkan dengan Uni Soviet.

Sesungguhnya ketakutan pemerintah dan masyarakat Amerika terhadap komunisme berlangsung sebelum McCarthy menduduki kursi senator. First Red Scare ditandai dengan ditandanganinya perintah eksekutif oleh presiden Harry S. Truman untuk melakukan pemeriksaan terhadap para pekerja negara yang memiliki afiliasi dengan organisasi yang dianggap “totalitarian, Fasis, Komunis, atau subversif”. Perintah tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan pecahnya Perang Dingin setelah usainya Perang Dunia II, menempatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam dua kubu yang saling bertentangan.

Uni Soviet pada periode tersebut bekerja keras untuk bisa menghasilkan senjata pemusnah yang paling ampuh di dunia. Negara tersebut melakukan uji peledakan bom atom dan mendeklarasikan dirinya sebagai produsen bom atom yang paling ampuh di dunia. Amerika Serikat tidak bisa menanggapi hal tersebut dengan kepala dingin. Pemerintah pun membentuk kelompok ilmuwan untuk melakukan penelitian yang akan menghasilkan bom atom tandingan, harus lebih ampuh dari yang telah diproduksi oleh Uni Soviet.

Pada Mei 1950, McCarthy menyampaikan daftar anggota Partai Komunis Amerika yang bekerja di Departemen Negara. Tentu saja hal tersebut menghebohkan media dan masyarakat Amerika pada saat itu. Sebagai konsekuensinya, banyak orang-orang Amerika yang kemudian dituduh sebagai bagian dari gerakan komunisme dan mendapatkan hukuman. Target utama dari tuduhan tersebut adalah pegawai pemerintahan, entertainer, pengajar, dan aktivis gerakan buruh. Biasanya mereka akan menghadapi interogasi yang sebenarnya bertujuan untuk membenarkan tindakan pemerintah untuk menghukum mereka. Hukuman yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap berafiliasi dengan komunisme antara lain pencabutan pekerjaan, bahkan pemenjaraan.

Salah satu rekaman interogasi terhadap orang yang dituduh berafiliasi dengan komunisme yang paling terkenal adalah interogasi yang dilakukan oleh McCarthy sendiri terhadap William Mandel. Pada Maret 1953, di tengah panas-panasnya gejolak Perang Dingin, McCarthy melakukan interogasi terhadap Mandel yang telah menerbitkan beberapa buku tentang Uni Soviet. Interogasi tersebut disiarkan melalui televisi dan ditonton oleh 40 juta orang di Amerika Serikat.

Pada lingkup sosial, masyarakat Amerika merespon isu komunisme dengan cara yang menarik. Hollywood sebagai salah satu raksasa hiburan Amerika Serikat mulai menghasilkan film-film bertemakan alien yang akan merusak keselamatan manusia di bumi. Para peneliti melihat fenomena tersebut sebagai upaya yang dilakukan Hollywood untuk menyebarkan ketakutan akan komunisme pada masyarakat Amerika. Alien merupakan simbol dari paham atau organisasi komunis yang berasal dari luar Amerika yang kemudian datang dengan misi merusak tatanan masyarakat Amerika dari dalam. Perilaku alien juga menyimbolkan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang Amerika yang berafiliasi dengan komunis dan bekerja di pemerintahan.

Selain itu, bermunculan pula komik-komik yang bertemakan kekacauan Amerika jika jatuh pada tangan komunisme. Bahkan komik propaganda anti-komunis tersebut berhasil mencapai kesuksesan karena dibeli oleh begitu banyak orang di seluruh Amerika Serikat. Sehingga dapat dikatakan pada saat itu Hollywood dan beberapa agensi hiburan di Amerika mengukuhkan wacana Red Scare di masyarakat.

Regulasi McCarthysim kemudian dicabut pada tahun 1947 dengan dinyatakan sebagai tidak konstitusional dan ilegal.

Dengan berkaca dari narasi sejarah McCarthyism yang terjadi di Amerika Serikat, kita bisa melihat pola-pola serupa yang digunakan pemerintah Orde Baru dalam melakukan penyebaran ketakutan bahkan kebencian terhadap komunisme. Tidak (baca: belum) ada dokumen sejarah yang menyatakan adanya hubungan langsung antara Suharto sebagai pemimpin rezim Orde Baru dengan McCarthy atau Truman yang menyatakan perang terhadap komunisme di Amerika. Namun beberapa aspek berikut dapat menjadi dasar argumen adanya keterkaitan antara McCarthyism dan tragedi pasca 65.

Perintah untuk melakukan pemeriksaan terhadap para pekerja pemerintahan di Amerika serupa dengan perintah screening yang diperintahkan oleh Suharto terhadap para pegawai di Indonesia pada tahun 1980-an, tepatnya pasca pelepasan tahanan politik di penjara lokal maupun nasional (Tefaat Pulau Buru dan Kamp Plantungan). Operasi tersebut dilakukan untuk mengetahui adanya relasi yang dimiliki seseorang dengan mereka yang dituduh sebagai antek komunis atau eks-tapol. Jika ditemukan adanya relasi, konsekuensi yang harus diterima adalah pencabutan izin dan hak bekerja. Pencabutan pekerjaan tersebut juga digunakan oleh McCarthyism untuk menghukum para pesakitan.

Selanjutnya interogasi yang dilakukan oleh pendukung McCarthyism dan McCarthy sendiri juga pernah terjadi di Indonesia. Seperti yang diceritakan dalam narasi film Jagal, terdapat kelompok vigilante yang melakukan penangkapan dan interogasi terhadap penduduk yang dianggap memiliki hubungan dengan komunisme di Sumatra. Di Jawa, operasi tersebut kebanyakan dilakukan oleh Pasukan Banser NU. Bahkan di Indonesia, interogasi dilakukan dengan cara yang jauh dari aturan hukum, dilengkapi dengan tindak kekerasan verbal dan fisik.

Apa yang dialami oleh Mandel pada 1953, dalam hal ini sebagai penulis, juga dialami oleh beberapa penulis dan seniman di Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah anggota Lekra yang dituduh berhubungan erat dengan PKI, dan harus menghadapi tuduhan bahkan hukuman penjara dan pembunuhan atas nama pemberantasan komunisme. Termasuk pula beberapa peneliti dan penulis yang dicabut paspornya dan menjadi eksil di luar negeri, seperti Sobron Aidit dan Dewa Soeradjana.

Yang menarik kemudian adalah bagaimana pencabutan perintah McCarthy yang tidak terjadi di Indonesia. Sampai detik ini tidak ada upaya pemerintah untuk melakukan intervensi secara legal dan politik untuk menangani kejahatan kemanusiaan yang pernah terjadi di Indonesia. Bahkan undang-undang yang menyatakan pelarangan terhadap penyebaran ajaran komunisme/sosialisme masih dianggap berlaku. Termasuk juga penetapan status ‘ET’ pada kartu identitas eks-tapol Orde Baru yang tidak dicabut, hanya secara perlahan hilang dari permukaan.

Bahkan dapat dikatakan kampanye Red Scare a la Indonesia masih terjadi sampai saat ini, yang secara langsung maupun tidak didukung oleh para figur publik, mulai dari agamawan sampai politisi. Ketakutan terhadap komunisme membawa masyarakat Indonesia masih hidup dalam kecurigaan terhadap satu sama lain, dan ketakutan untuk menyuarakan pendapat atau menceritakan pengalaman. Bahkan upaya pelurusan definisi dan ideologi dalam ranah pendidikan masih sering mendapatkan penjegalan. McCarthyism di Indonesia masih belum mencapai titik padamnya, bahkan seringkali disulut untuk kepentingan kekuasaan.