Saya memang bukan salah satu pendukung Ahok yang ikut bernyanyi lagu nasional di Balai Kota DKI Jakarta, dan juga bukan personil Aksi Bela yang sudah masuk jilid kesekian. Karena itulah saya merasa tidak pantas untuk membahas kasus Ahok dalam ranah hukum, melemparkan pasal-pasal atau memberikan tuduhan baru pada pihak-pihak lain. Saya hanya ingin menyadarkan pembaca bahwa (tuduhan) penistaan agama -menurut hemat saya- merupakan tradisi turunan yang sudah lama terjadi, sama tuanya dengan kemunculan agama-agama itu sendiri secara sistem.

Sistem yang saya sebutkan tersebut merujuk pada bagaimana terdapat agama-agama yang memiliki suatu institusi massa yang memiliki otoritas dan otonomi untuk mengatur, seperti persekutuan gereja atau kelompok-kelompok lain yang membawa kepercayaan sebagai basis organisasi. Secara etimologi bahasa, ‘penistaan agama’ yang dalam bahasa Inggris adalah ‘blasphemy’, kita sudah bisa melihat betapa panjang umur dari (tuduhan) penistaan; yakni berasal dari rumpun bahasa Yunani Kuno βλασφημέω atau injured speech, dan Latin Kuno blasphemare yang digunakan sekitar abad 3 sampai 6 Sebelum Masehi.

Tentu saja sistem agama yang ada pada saat itu tidak seperti yang ada seperti sekarang, dalam artian memiliki jutaan massa lintas budaya dan batas regional. Namun pada saat itu sudah dikenal suatu sistem hirarki dalam organisasi yang anggotanya mengaku memiliki identitas sama satu sama lain, dan pada saat yang sama juga memberikan suatu jarak dengan orang-orang yang tidak memiliki identitas atau bahkan pemikiran yang sama.

Salah satu kasus penistaan agama tertua di masa sejarah manusia menimpa Anaxagoras, seorang filsuf Yunani yang hidup sebelum masa Socrates, pada tahun 450 SM. Ia menjelaskan pendapatnya melalui sebuah tulisan yang menyatakan bahwa matahari bukanlah tuhan, melainkan merupakan sebuah batu putih panas dan bulan merefleksikan sinar matahari. Menurut kacamata pembaca modern, penjelasan tersebut tidak akan dianggap sebagai sebuah aksi penistaan, bahkan mungkin akan dielu-elukan atas nama ilmu pengetahuan. Namun hal yang berbeda terjadi pada zaman Yunani Kuno, di mana agama -terutama Kristiani- memegang otoritas yang sangat tinggi dan berpengaruh hampir ke semua aspek kehidupan manusia baik individu dan sosial. Pendapat Anaxagoras dituduh oleh otoritas sebagai suatu tulisan yang mencerminkan penistaan agama karena melanggar norma bahwa matahari merupakan ciptaan tuhan, atau bahkan mungkin tuhan itu sendiri. Hukuman yang harus diterima oleh Anaxagoras adalah pengasingan dari Athena dan pembakaran semua tulisan yang dibuatnya.

Selain Anaxagoras, tentu kita seringkali mendengar atau membaca tentang kisah para filsafat yang memperoleh tuduhan-tuduhan serupa. Di sinilah terkadang saya merasa ada fenomena yang paradoksal, di mana kita saat ini, yang sudah memiliki pengetahuan tentang ilmu alam cukup canggih, menganggap bahwa (tuduhan) penistaan agama yang terjadi di tahun-tahun sebelum masehi atau di awal masehi merupakan suatu hal yang konyol dan tidak seharusnya terjadi. Namun di saat yang sama, kita masih menjumpai hal yang kita anggap konyol itu, (tuduhan) penistaan agama masih menjadi fenomena sosial yang terus berlanjut sampai sekarang. Karena itulah saya berani berpendapat bahwa sesungguhnya (tuduhan) penistaan agama merupakan suatu tradisi turunan yang bahkan lebih langgeng usianya dibandingkan tradisi lokal budaya yang dulu pernah ada dan lama kelamaan hilang tinggal nama.

Untuk kasus Ahok, saya merasa tidak memiliki kapasitas apapun untuk menilai atau menganalisis hal-hal teknis yang berkaitan dengan hukum atau agama. Namun jika dilihat menggunakan kerangka sejarah sebagai kontinuum, maka Ahok tidak lain adalah nama lain yang ada di dalam daftar orang-orang yang pernah mendapatkan tuduhan penistaan agama sejak zaman sebelum masehi sampai detik ini. Dan apakah fenomena (tuduhan) penistaan agama tersebut akan terus berlanjut? Menurut hemat saya, jika sistem agama mempertahankan suatu bentuk otoritas yang terus sama, atau bahkan semakin kuat karena dukungan material atau kepentingan, maka hal tersebut akan terus berlangsung dan bisa menimpa siapa pun, tidak lagi filsuf atau penulis, namun juga nama-nama dengan latar belakang lain.